Ekstra
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
seorang pemuda biasa sarjana filsafat universitas gadjah mada jogjakarta
Penulis Sunyi
Anggun Gunawan
|  10 November 2009  |  07:06
239
4
1 dari 1 Kompasianer menilai Inspiratif.

Aku surut berjalan mundur, ketika melihat sebuah cincin melekat di jari manis seorang wanita. Bukan karena apa-apa, pengalamanku mengatakan gadis itu biasanya dah punya seseorang spesial. Lebih baik mundur teratur daripada harus “berkonflik” memperebutkan wanita.

Ketika berpapasan dengan wanita cantik, maka berburuk sangkalah bahwa anda hanyalah salah satu dari sekian banyak pria yang sudah tertarik padanya. Sangat kecil kemungkinan dia masih single atau berstatus lajang sedang mencari pria pujaan.

Ah, dasar pria gila. Sepagi ini sudah ngomongi wanita. Dasar mata keranjang dirimu Gun…:)

Kemarin, lewat wall di facebook seorang sahabat baikku merekomendasikan agar merubah tampang di salon dan sering jalan-jalan biar tak selalu terpaku di kamar. “Kurangi menulis, perbanyak ke salon dan jalan2″, itu redaksi rekomendasi sahabatku yang sudah bekerja di perusahaan besar di Jakarta.

Aku hanya bisa menahan geli, ketawa sendiri. Mau dipermak seperti apa lagi wajahku ini. Cetak birunya sudah kayak gini kok. Ngak pengaruh sama salon-salonan. Kalaupun bisa mempermak dikit, toh aku ngak punya anggaran untuk itu. Masih banyak buku yang ingin ku beli untuk menambah koleksi perpustakaan pribadi. Soal jalan-jalan, kayaknya dah terlalu banyak aku menebarkan mata ke segala penjuru. Sudah banyak dosa karena melihat hal-hal yang ngak perlu.

Kurangi menulis, agaknya ini rekomendasi yang membuat mati tanpa kreasi. Aku sedang menikmati masa-masa indah untuk menulis. Beberapa kali tulisanku menjadi headline di blog Kompas, Kompasiana. Sebuah pencapaian yang membuatku tetap semangat, meski ngak pernah menang dalam kompetisi blog.

Dengan 8300-an penulis hebat yang tergabung di Kompasiana, tentu menjadi bagian dari nama-nama mereka yang sudah populer, membuatku menjadi berharga. Sangat prestisius bagi penulis pemula sepertiku.

Aku akan tetap menulis dan menulis. Karena dari menulis aku menghidupkan hati dan motivasi. Pena telah menjadi penganti suaraku yang bisu. Menemani diri nan sepi di kamar sunyi. Seraya berharap, masih ada yang peduli dan bersimpati.


Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
10 November 2009 08:05
0

menulis adalah expresi jiwa yang mampu membebaskan pikiran.hidup menulis…

10 November 2009 08:11
0

Menulis merupakan bagian terindah dalam hidup… karena bisa berbagi dengan yang lain… seperti di Kompasiana ini…

Hidup menulis!!!!

10 November 2009 08:24
0

Just be yourself….

11 November 2009 13:55
0

mengekspresikan dirilewat tulisan jauh lebih bermakna. aku juga ingin jadi penulis yang TOP bgt.

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Copyright 2008 - 2009